• Wed. Apr 21st, 2021

Klorokuin dan Avigan untuk Melawan Virus Corona

Klorokuin
Klorokuin

QQMulia88 – Klorokuin atau klorokuin fosfat selama ini dikenal sebagai obat malaria. Dari hasil studi riset yang dilakukan di China dan Amerika, pasien Corona di Wuhan dinyatakan sembuh dan mengalami perbaikan kondisi tubuh setelah diuji klinis dengan diberi klorokuin.

Wakil Kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China, Sun Yanrong, dalam konferensi pers pada Selasa (18/2/2020), menyatakan klorokuin mempunyai efek penyembuhan tertentu pada penyakit virus Corona. Hal ini diketahui setelah dilakukan berbagai macam uji klinis di rumah sakit di China.

Sementara itu, Avigan merupakan obat yang dikembangkan oleh anak perusahaan Fujifilm, Avigan. Obat ini juga dikenal dengan Favipiravir.

Obat ini sudah diujikan ke para pasien. Uji klinis di Wuhan dan Shenzhen yang melibatkan 340 pasien hasilnya memuaskan.

“Favipiravir memiliki tingkat keamanan yang tinggi, yang efektif dalam penanganan pasien corona,” ujar Kementerian Sains dan Teknologi China, Zhang Xinmin, kepada awak media, seperti dikutip dari Guardian, Rabu (18/3/2020).

Ayo segera daftarkan diri anda di situs Judi Online dan dapatkan hadiah jutaan rupiah setiap harinya.

Hasil Dari Obat Klorokuin dan Avigan

Menurut laporan media NHK, pasien yang diberi Favipiravir di Shenzhen terbebas dari COVID-19 setelah sempat dinyatakan positif pada empat hari sebelumnya. Pasien yang diberi obat tersebut, dinyatakan sembuh dari COVID-19 setelah 11 hari lalu.

Tidak hanya itu, hasil X-ray memperlihatkan sekitar 91 persen pasien mengalami peningkatan kondisi paru-paru setelah diberi Favipiravir. Sementara pasien yang tidak mendapat obat tersebut, angkanya hanya berkisar 61 persen.

Avigan telah mengembangkan Avigan atau Favipiravir sejak 2014. Saham perusahaan dari perusahaan Avigan meroket setelah pernyataan Zhang beredar di media.

Namun Kementerian Kesehatan Jepang mengindikasikan bahwa Favipiravir tidak efektif terhadap pasien yang memperlihatkan gejala berat COVID-19.

“Kami telah memberikan Avigan kepada 70 hingga 80 orang, tapi tidak efektif jika virusnya sudah berkembang biak,” ujar Kementerian Kesehatan Jepang kepada Mainichi Shimbun.

Pada 2016, pemerintah Jepang memasok Favipiravir sebagai bantuan darurat untuk melawan wabah virus Ebola di Guinea. Favipiravir membutuhkan persetujuan pemerintah Jepang jika akan digunakan secara massal untuk pasien COVID-19. Karena obat tersebut awalnya hanya digunakan untuk mengobati flu biasa.

Seorang pejabat kesehatan Jepang mengatakan kepada Mainichi bahwa Favipiravir bisa disetujui oleh pemerintah pada awal Mei. Tapi jika hasil riset klinisnya ditunda, maka pengesahannya juga bisa tertunda.

Baca Juga : UEFA Resmi Tunda Euro 2020 Hingga Tahun 2021