• Mon. Aug 2nd, 2021

Manchester United Ogah di beli Orang Terkaya Inggris, Ini alasannya

Suasana di Luar Stadium Old Trafford , Manchester United
Suasana di Luar Stadium Old Trafford , Manchester United

Liga Inggris – Orang terkaya di Inggris Raya, Sir Jim Ratcliffe, berkembang bagaikan penggemar berat Manchester United( MU). Walaupun demikian, ia tidak ingin membeli klub yang dicintainya itu.

Ratcliffe memiliki kekayaan yang lebih dari lumayan buat mengakuisisi MU. Laki- laki berumur 67 tahun itu mempunyai kekayaan senilai 20 miliyar poundsterling ataupun setara Rp 361 triliun.

Semenjak setahun kemudian pendiri Ineos, salah satu industri kimia terbanyak di dunia, itu mengaku mau membeli suatu klub sepak bola. Bila sejalan dengan klub idolanya, Ratcliffe sepatutnya membeli MU.

Tetapi, kenyataannya Ratcliffe malah memilah membeli klub Liga 1, Nice.

Ia tadinya pula pernah memikirkan membeli Newcatle United, Chelsea, serta Leeds United.

Pada 29 Agustus 2019, Ratcliffe kesimpulannya membeli Nice dengan nilai transaksi menggapai 91 juta poundsterling( Rp1, 644 triliun).

3 bulan sehabis akuisisi tersebut, Sir Jam Ratcliffe, kesimpulannya buka- bukaan alibi kenapa tidak ingin menghabiskan uangnya buat membeli Manchester United.

Ia berkata membeli MU pada dikala ini merupakan manuver bisnis yang kurang baik. Berikut sebagian di antara alibi yang mendasarinya, semacam dikutip The Sun.

  • Pemilihan Manajer yang Buruk
Ole Gunnar Solskjaer Menangani Tim Manchester United Saat Ini
Ole Gunnar Solskjaer Menangani Tim Manchester United Saat Ini

ir Jim Ratcliffe memperhitungkan MUselalu memilah manajer yang tidak pas sehabis Sir Alex Ferguson pensiun pada 2013. Sebagian manajer telah digaet semenjak Ferguson pensiun, tetapi belum terdapat yang sukses mempersembahkan gelar Premier League.

David Moyes, Louis Van Gaal, Jose Mourinho, sampai yang terbaru Ole Gunnar Solskjaer kandas penuhi ekspektasi besar fans.

” Kinerja mereka kurang baik dari sisi bisnis. Mereka tidak memilah manajer dengan baik,” kata Ratcliffe.

Dikala ini, di dasar kendali Solskjaer, Manchester United masih tercecer di papan tengah Premier League. Kiprah MU jauh dibandingkan dikala masa Sir Alex Ferguson. Pada masa Ferguson, finis di posisi kedua Premier League telah dikira bagaikan kegagalan.

  • Buruk Dalam Transfer Pemain
Fred Mengalami Cidera Saat Bermain Manchester United
Fred Mengalami Cidera Saat Bermain Manchester United

Sir Jim Ratcliffe pula berkata sepak terjang Manchester United pula sangat kurang baik. Buktinya, MU sering menghasilkan duit sangat besar buat membeli pemain yang secara mutu pas- pasan.

Contoh lain kegagalan MU di bursa tranfer merupakan pembelian Alexis Sanchez. MU merogoh kocek sangat besar serta menggaji si pemain sangat besar, tetapi berujung penampilan mengecewakan. Selasa 18 bulan Sanchez kandas membuktikan tajinya.

Si striker kesimpulannya dipinjamkan ke Inter Milan. Ironisnya, MU masih wajib membayar separuh dari pendapatan Sanchez.

” Mereka menghasilkan duit dengan bodoh, yang dapat Kamu amati pada keberadaan pemain semacam Fred. Di mari( Nice) kami tidak memandang ke tempat lain, hingga kami menciptakan game yang bagus di mari,” kata Ratcliffe.

” Kami wajib mencari ketahui gimana jadi sukses saat sebelum menulis jumlah besar di cek,” imbuh ia.

  • Buruk Dalam Mengembangan Talenta Muda
Jesse Lingard Melakukan Selebrasi Saat Mencetak 1 Gol
Jesse Lingard Melakukan Selebrasi Saat Mencetak 1 Gol

Semenjak dahulu Manchester United diketahui bagaikan klub yang produktif mengorbitkan para pemain muda, paling utama dari akademinya sendiri.

Tetapi, Ratcliffe merasa nilai lebih MU tersebut telah memudar semenjak ditinggalkan Sir Alex Ferguson.

” United menghabiskan banyak yang semenjak Ferguson berangkat serta hasilnya kurang baik. Sejujurnya, sangat kurang baik,” kata ia.

” Kami memiliki pendekatan berbeda di mari( Nice). Kami berupaya mencari di pangkal rumput, berupaya mengorbitkan pemain- pemain muda.”

” Sebagian klub memiliki keahlian melaksanakan itu, semacam Southampton, Lille. United melaksanakannya dengan sangat kurang baik. Mereka kehabisan plot.